Tampilkan postingan dengan label Dunia Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Militer. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2015

Polwan CANTIK + BENING yang Nyambi Jadi Tukang Tambal Ban ini Bikin Heboh Dunia Maya

Kondisi ekonomi orang tua yang pas-pasan ternyata tidak membuat sosok gadis berparas manis ini putus asa. Meski ayahnya hanya seorang buruh tukang tambal ban, malah membuat Bripda Eka Yuli Andini (19) bersemangat dalam menempuh masa depan sebagai polwan. (Sumber)



Gadis lulusan SMK Negeri 2 Salatiga jurusan Teknik Komputer dan Jaringan ini, dengan mulus lolos tanpa uang sogokan menempuh pendidikan kepolisian Pusdik Binmas, Banyu Biru, Ambarawa, Jawa Tengah. Selain itu, selama menempuh masa pendidikan sebagai Sekolah Calon Bintara (Secaba), berhasil mengukir prestasi rangking tujuh dari 7.000 peserta lainnya saat pendidikan kepolisian se-Indonesia.

Meski, sudah dua bulan menjadi polwan, Bripda Eka, panggilan sehari-harinya tidak pernah lupa disela-sela kesibukannya sebagai abdi negara tetap membantu profesi ayahnya sebagai buruh tukang tambal ban di Jalan Veteran, Pasar Sapi RT 2 RW 6, Kota Salatiga, Jawa Tengah dan bengkel.

Di rumah kontrakan sekaligus bengkel yang hanya berukuran 6 X 6 meter ini Bripda Eka jika lepas piket di Mapolresta Salatiga, Bripda Eka membantu kesibukan orang tuanya melayani langganan tambal ban ayahnya. Kesibukannya ini dilakukannya sejak duduk di bangku sekolah mulai SMP hingga SMK.

Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sabirin (49) dan Darwanti (40) ini awalnya sama sekali tidak terbayang dibenaknya untuk menjadi seorang Polwan. Padahal awalnya, Bripda Eka ingin bekerja di sebuah stasiun televisi besar berskala nasional. Makanya, dirinya mengambil jurusan Teknik Komputer dan Jaringan agar mahir dalam bidang editing gambar dan animasi di televisi atau bidang broadcasting.

"Orangtua saya nggak pernah mengarahkan. Saya awalnya pingin kerja di broadcast, bagian editing dan ahli animasi karena saya ingin bekerja di stasiun tv terkenal. Pernah membuat web dengan teman-teman. Suka saja ngedit video, ngedit foto pokoknya yang berbau desain grafis lah," ungkapnya saat ditemui merdeka.com Selasa (25/2) di RSUD Salatiga di Bangsal Kelas 3 Flamboyan, Kota Salatiga, Jawa Tengah menunggui ayahnya Sabirin yang sedang sakit.

Namun, menjelang kelulusan, Bripda Eka mendapat dorongan dari Mara Tilofashanti salah satu guru multimedia komputer di SMK Negeri 2 Salatiga yang saat itu ada sosialisasi penerimaan polwan dari Polresta Salatiga. Bripda Eka kemudian mencoba mengadu nasib dan keberuntungan mengikuti seleksi penerimaan Secaba Polri di Kota Semarang, Jawa Tengah.

"Sebelum jadi polwan. Awalnya aku sempat daftar salah satu perusahaan perkabelan automotif di PT Autocom di Subang, Jawa Barat. Saat itu tes tertulis dulu. Terus dapat panggilan ke Semarang untuk seleksi setelah tes kesehatan di Polri. Kemudian bebarengan, saya milih seleksi di Polri saja kemudian mengikuti tes kesehatan dan membatalkan untuk tes di PT Autocom. Ingin cepet kerja biar bisa bantu ayah dan tidak menambal ban terus," tutur gadis berkelahiran 30 Juli 1996 ini.

Bripda Eka kepada merdeka.com sempat mengaku tidak percaya diri karena gadis berparas imut ini hanya memiliki tinggi badan 156 dengan berat hanya 48 saja. Namun, karena mendapat dorongan dari teman-teman sekolah, orangtua dan gurunya, akhirnya bersama 19 teman satu sekolahnya Bripda Eka mengikuti proses seleksi Secaba Polri.

"Ada teman-teman daftar sekitar sekelas lima sama saya. Kalau satu sekolah SMK Negeri 2 Salatiga ada sekitar 20 teman sama saya. Terus daftar, saya khan tinggi badan pas-pasan banget. Kok kayak tinggi badan ngepres. Di bujuk Bu Mara, udah gak papa ikut saja, tahun kemarin ada 7.000 polwan diterima. Kapan lagi ada kuota seperti itu. Eh, ternyata sekarang sudah jadi Polwan. Alhamdulillah saya jadi rangking tujuh selama pendidikan 1,5 bulan di Banyu Biru, Ambarawa," ungkapnya.

Meski telah berhasil menjadi anggota polwan, sosok Bripda Eka tetap menunjukkan kesederhanaannya. Bagaimana tidak, saat merdeka.com menemuinya baju, celana dan sepatunya yang dikenakan baju tak bermerek. Kesantunan dan kepatuhan kepada kedua orangtuanya pun tetap dijaga.

Terbukti, saat menunggui ayahnya Sabirin yang sedang sakit paru-paru, dengan setia bersama ibu dan adik semata wayangnya Arjuna Dwi Bagaskara (16) yang saat ini juga duduk di bangku sekolah SMK Negeri 2 Salatiga seperti dirinya. Meski dirinya kini telah sibuk bertugas sementara di Unit Shabara Polresta Salatiga, Jawa Tengah.

Selasa, 24 Februari 2015

Inilah Pria yang Berhasil MENCEGAH PERANG DUNIA Ketiga

Pada Oktober 1962, dunia diambang kehancuran, karena memanasnya hubungan AS dan Rusia (USSR) berpotensi besar memicu Perang Dunia 3. Namun, seorang pria berhasil menghentikannya.
                                 

Sebuah dokumenter yang dipublikasikan menyatakan, tindakan seorang pria menyelamatkan bumi dari perang nuklir. Ia adalah Vasili Arkhipov, awak kapal selam Rusia, yang meski jadi pahlawan tapi meninggal dunia dipermalukan dan diasingkan.

Kisahnya dimulai pada 1960-an, di tengah kekhawatiran Perang Dingin, saat hubungan Washington dan Moskow benar-benar rusak. Di Amerika, rakyat mulai mengumpulkan ransum dan membangun bunker antibom di kebun mereka.

Ketegangan meningkat karena terjadi revolusi di Kuba. Rusia pun memiliki sekutu komunis yang bisa membantu menggempur Amerika. Rudal-rudal di Kuba sudah diarahkan ke Amerika, meratakan Washington dan New York dalam waktu 10 menit.

Satu-satunya hal yang menghentikan mereka dari saling serang ketika itu adalah kebijakan yang menyatakan serangan boleh dilakukan jika satu pihak terbukti merusak teritori pihak lainnya.

Satu torpedo saja diluncurkan, maka lainnya akan membalas dengan hal yang sama. Tentunya, hal ini akan memicu serangan-serangan yang amat menghancurkan. Apalagi melibatkan nuklir, umat manusia bisa saja punah ketika itu.
                       

Vasili Arkhipov, awak kapal selam B-59 Russia yang berhasil membatalkan peluncuran rudal berhulu ledak nuklir dan mengagalkan perang nuklir pada tahun 1962

“Semua pihak mengantungi nuklir. Satu saja serangan, perang nuklir terjadi,” ujar Direktur Arsip Keamanan Nasional AS, Thomas Blanton.

Di tengah atmosfer saling curiga dan takut ini, empat kapal selam Rusia diam-diam diberangkatkan dari Rusia. Hanya pejabat penting di kapal selam saja yang tahu mereka membawa torpedo berhulu ledak nuklir.

Kekuatannya besar, setara bom atom Amerika yang dijatuhkan ke Kota Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 lalu. Kapal selam ini berangkat menuju Kuba. Mereka dikawal helikopter, jet tempur dan kapal perang.

Amerika pun memburu mereka, bak permainan tikus dan kucing. Tak lama, Amerika menemukan kapal-kapal selam itu.

Kapal selam yang ditumpangi Vasili Arkhipov, B59, ikut terpaksa menyelam, bersembunyi dari pantauan Amerika.

Saat itulah kondisi memburuk karena mereka harus bertahan di bawah air selama sepekan, dalam suhu dan kelembaban tinggi, serta air minum yang dibatasi satu gelas per hari.

Tak ada yang tahu, kapal selam itu membawa senjata maut. Amerika terus menunggu awak kapal selam yang kepanasan dan kehausan, menyerah. Tak sabar, Amerika menjatuhkan granat peringatan ke laut, yang oleh Rusia disangka serangan.

Valentin Savitsky, kapten kapal selam B59, yakin perang nuklir sudah dimulai. Ia memerintahkan peluncuran torpedo nuklir untuk menyelamatkan kehormatan Rusia. Dalam kondisi normal, sudah pasti perintah ini segera dijalankan dan kedua negara bakal berperang.

Namun, Savitsky tak memperhitungkan Arkhipov, yang memiliki hak veto penggunaan torpedo nuklir. Arkhipov bersikeras mereka tak boleh menembakkan senjata itu dan harus menyerah kepada Amerika.

Langkah memalukan bagi Rusia, namun menyelamatkan seluruh dunia. Begitu muncul di permukaan, kapal-kapal selam itu hanya disuruh pulang ke Rusia.

Arkhipov yang tak sadar dirinya adalah pahlawan dunia, ternyata dipermalukan di negaranya.

Bertahun-tahun kemudian baru apa yang sebenarnya terjadi di dalam B59 diketahui publik. Sayang, saat itu Arkhipov sudah meninggal dunia. Bagi Olga, jandanya, Arkhipov adalah seorang pahlawan.

“Dari kapal selamnya, ia mencegah pecahnya perang nuklir. Saat itu saya bangga, dan saya akan selalu bangga dengan suami saya,” ujarnya. Kisah Arkhipov akan ditayangkan dalam dokumenter bertajuk: The Man Who Stopped World War III: Revealed.

Bisa dibayangkan jika diwaktu itu Soviet benar-benar meluncurkan rudal nuklirnya melalui kapal selam B-59, tanpa menghiraukan Vasili Arkhipov. Pastilah saat itu akan terjadi awal mula perang nuklir atau Perang Dunia-3 antara Soviet dan Amerika Serikat.

Bisa jadi, perang itu membinasakan milyaran manusia secara langsung atau tidak. Iklim akan berubah, udara, atmosfir, air, tanah akan beradiasi juga tumbuh-tumbuhan dan hewan akan mati karena radiasi. Yang jelas, pasti radiasi nuklir tersebut juga akan tetap ada hingga ribuan tahun lamanya, dan manusia bisa saja hidup di dalam permukaan tanah untuk menghindari radiasi tersebut selama ribuan tahun.

Dan bisa jadi manusia akan kembali ke zaman pertengahan bahkan akan menghambat kemajuan segala bidang sosial dan teknologi serta semua aspek di dalamnya. Terimakasih Vasili Arkhipov atas inisiatif dan keteguhan serta pro perdamaian dalam mengambil keputusannya pada saat lalu.

tebak gambar : APA yang dibawa HELIKOPTER ini ?


Ini adalah helikopter Mi-26 yang dimiliki oleh Russian, dan benda yang dibawanya ini ialah……




tebak gambar : APA yang dibawa HELIKOPTER ini ? 

.





.




.




.




.







helikopter  tengah membawa pesawat yang dah tua, dikenali sebagai “Tu-134”.



Senin, 23 Februari 2015

Selama 28 Tahun Tentara Ini Sembunyi di dalam Gua


Shoichi Yokoi (31 maret 1915) lahir di Saori, PrefecturAichi . adalah seorang sersan Jepang di Tentara Kekaisaran Jepang (IJA) selama Perang Dunia Kedua. yang bersembunyi lebih 28 tahun bahkan setelah perang berakhir. 



Kisah uniknya berawal di tahun 1944 tepatnya dipulau Guam yokoi dan teman temannya dikirim oleh pemerintah jepang kepulau tersebut. Namun pada saat tentara Amerika menaklukkan pulau tersebut, Soichi bersembunyi. Tentara-tentara jepang yang lain udah pada nyerah dan dipulangkan ke jepang. Tapi tidak bagi Shoichi yokoi. Dia lebih memilih ngumpet di sebuah gua bawah tanah di hutan bambu di pulau guam. sebenarnya dia tidak sendirian, dia bersembunyi bersama 10 temannya, namun lama kelamaan Yokoi menemukan temannya mati, tampaknya kelaparan. Delapan tahun terakhir ia hidup sepenuhnya sendirian.

Lalu bagaimana yokoi bertahan hidup? Yokoi bertahan hidup dengan berburu, terutama di malam hari. Dia menggunakan tanaman asli untuk membuat pakaian, tempat tidur, dan melaksanakan penyimpanan, yang ia dengan hati-hati bersembunyi di guanya.

Bagai mana dia ditemukan?
Pada 24 januari 1942 dia ditemukan Dia ditemukan oleh Yesus Dueñas dan Manuel De Gracia, dua orang lokal yang sedang memeriksa perangkap udang mereka sepanjang sungai kecil di Talofofo. Mereka awalnya berasumsi bahwa Yokoi adalah warga desa dari Talofofo,namun kecurigaannya membuat kedua orang tersebut tapi berhasil mengejutkan dan meringkusnya, membawa dia keluar dari hutan dengan memar kecil.

Setelah tertangkap & mengetahui bahwa perang telah berakhir??
"It is with some embarrassment, but I have returned,"="Hal ini karena malu, tapi aku telah kembali,"katanya saat kembali ke Jepang. 

Pernyataan itu akan menjadi populer mengatakan dalam bahasa Jepang.Selama dua puluh delapan tahun, ia bersembunyi di gua hutan bawah tanah, takut untuk keluar dari persembunyiannya, bahkan setelah menemukan selebaran yang menyatakan bahwa Perang Dunia II telah berakhir.


Nama :Shōichi Yokoi 横井 庄
Lahir: March 31, 1915 di Saori, Aichi Prefecture, Japan
Meninggal :September 22, 1997 (aged 82)
Kesatuan :Tentara Jepang
Tahun Pengabdian :1941–1972
Pangkat : Sersan
Peperangan : PD II , Perang GUAM I , PERANG GUAM II

Foto Oknum Polisi yang Diduga Lagi Hitung Uang ini Bikin Heboh Dunia Maya

Foto dua orang oknum anggota polisi sibuk menghitung uang membuat heboh situs media sosial Facebook. Foto yang diposting pemilik akun Facebook Adm Motivasi itu ditautkan ke akun fanpage JOKOWI PRESIDEN KU dengan judul "Ayo Lagi Ngapain?" ini ternyata mendapat respon dari netizen lainnya. (Sumber)



Foto hasil jepretan sembunyi-sembunyi (hidden camera) memperlihatkan dua orang polisi seperti memegang berlembar-lembar kertas warna merah seperti bentuk uang Rp 100 ribu.

Tentunya berbagai komentar positif dan komentar negatif. Hingga kini foto tersebut mendapat 606 komentar serta like 1.288 orang.

Berikut komentar di akun facebook:

Harry Setiawan Rph: Kalau yg begini mah bkn fitnah. Hampir rata2 pengguna jalan raya mengalami,kalau yg namanya ketemu yg begini (POLISI).

M Ridone: Ada ada saja tapi lucu..kan gk tau itu dwit apa berpikir positip sajalah.
etiawan Jayadireja: Yang pasti takut ketahuan istrinya, di umpetin dikit?

Ronymeong Rony: itung itung balikin modal dulu bro......gua masuk kemarin kan abis ratusan juta...

Harry Setiawan Rph: Kalau aq dah susah berfikir positif ama Polisi, dah banyak ngalami. Semua type sama, soalnya sblm msk polisi aja udah jadi rahasia umum kkn sdh sampai 200 an jt. Stlh reformasi makin parah aja.

Subahtiar Rkh: Jgn suudzon...itu br menghitung gajian mas !

James Bono: BIASA DIMANA-MANA POLANTAS YA BEGITU ITU , SUDAH KERJAANNYA BAGI2 HASILL " PETAK UMPET " SOALE YA PUNYA GENDAAN JUGA, JADI KEBUTUHAN HIDUPNYA JADI BER-LIPAT2.

Jenny Mulyana Gani: MEMALUKAN....!!!!

PriMa Mkfc Part II: Sdh lh bro jangan ngurusih kerjaan org. apakah kerjaan anda semua udh benar.... kita koreksi aja diri kita masing".

Ega Geofandi: Itung ceperannn ....s* x gertak 1 pasal 250. Nitep dia 100. Pernah ngalamiiii
Nova Abast: Wakakakakkaakkkkk. ...kyk supir angkot lg itung uang setoran...

Minggu, 22 Februari 2015

Ini Brigadir Dewi, Polwan 'Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih' dari Bandung.....yang Belum Tau Masuk....!!

Netizen yang aktif di dunia maya tentu tak akan asing dengan sosok Polwan 'Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih' yang ramai muncul dalam bentuk meme-meme lucu. Siapa sebenarnya sosok polwan tersebut dan cerita dibalik ungkapannya yang kini heboh di masyarakat. (Sumber)



Adalah Brigadir Dewi Sri Mulyani. Ia merupakan anggota Satlantas di Polrestabes Bandung, bagian Dikyasa (Pendidikan dan Rekayasa). Dewi menjadi salah satu polisi yang mengisi sebuah program di salah satu stasiun TV swasta pada Oktober 2014 lalu.

Saat itulah, Dewi mengeluarkan kalimat spontan yang kini malah jadi terkenal dan dipakai jadi plesetan meme. Waktu Dewi ditanya soal bagaimana kalau menghadapi anak yang rewel. Karena bagian dari tugas pokok dan fungsinya antara lain memberikan pendidikan lalu-lintas pada anak-anak.

"Ya saya spontan saja jawab, 'Di situ kadang saya merasa sedih'. Karena saya juga ingat anak-anak," ujar Dewi pada detikcom, Minggu (22/2/2015).

Ia mengungkapkan, karena pekerjaannya itu Dewi kerap harus meninggalkan 3 anaknya sehingga hal itu kadang membuatnya sedih sebagai seorang ibu.

Dewi tak menyangka, ucapannya itu malah jadi berkembang menjadi meme-meme di sosial media. Ia pertama kali mengetahui hal tersebut dari juniornya dan keponakannya.

"Meme pertama yang saya lihat itu yang Valentine. Komentar saya waktu itu sih cuma 'waduh'," katanya.

Dewi pun merasa, sosoknya dalam meme terlihat lebih jelek daripada yang ia rasakan. "Naha meni rumeuk kitu nya (kenapa kok jelek gitu sih-red)," tutur Dewi sambil tertawa.

Bahkan kini gambar dirinya sudah makin banyak diubah dan dijadikan meme berbagai tema. "Saya enggak nyangka kok jadi rame gini yah," tutur Dewi.

Dewi sudah 13 tahun menjadi polisi, sebelumnya, ia sempat ditempatkan di Satlantas, Provos kemudian dikembalikan lagi ke bagian Satlantas. Suami Dewi juga merupakan anggota Satlantas di Polsek Babakan Ciparay.

Dewi lahir di Subang 16 Oktober 1982, merupakan anak bungsu dari 14 bersaudara. "Dari riwayat keluarga, cuma saya satu-satunya yang jadi polisi," ungkapnya.

Wanita ini adalah Instruktur Militer PALING CANTIK di China....Bening Banget Gan

Saatnya kembali ke kampus lagi. Banyak mahasiswa tidak mau ke kampus karena pelatihan militer di bawah terik sinar matahari. Banyak mahasiswa tidak dapat menanggung pelatihan keras, bahkan beberapa membenci pelatihan militer.

 

Namun, baru-baru ini, seorang cewek paling cantik menjadi instruktur militer di China, hits di Internet.  Dan mahasiswa pria china pada semangat rela menerima pelatihan militer darinya.

Melihat fotonya, banyak netizens berkata, "mengatakan bukankah bahwa pelatihan militer membuat orang kecoklatan?" Beberapa netizens mengatakan mereka bersedia menerima pelatihan militer jika mereka memiliki seorang instruktur pelatih militer yang cantik.

Beberapa netizens bahkan mengatakan bahwa memiliki seorang instruktur perempuan yang cantik, kita tidak takut apapun jenis pelatihan militer-nya.

Zhang Yihan, itulah nama si instruktur militer yang cantik di China, dia juga masih berstatus seorang mahasiswa senior di College of Art Design in Dalian Polytechnic University (DPU), China. Di Universitas ini memiliki tradisi bahwa mahasiswa senior mengambil alih instruktur pelatihan militer.

Instruktur Mahasiswa ini telah menjalani pelatihan keras di liburan musim panas. Jika dia di kampus Anda, maukah kamu kembali ke kampus untuk menerima pelatihan militer lagi?

Jumat, 20 Februari 2015

Kata Anak Brigadir Dewi: Ibu Kenapa Merasa Sedih.....??

Brigadir Polisi Dewi Sri Mulyani harus panjang lebar menjelaskan kepada anaknya kenapa harus merasa sedih. Maklum, foto anggota Pendidikan Dan Rekayasa Satlantas Polrestabes Bandung itu belakangan berseliweran dijadikan meme 'di situ kadang saya merasa sedih'. Ibu tiga anak tersebut akhirnya menjelaskan kepada putra sulungnya itu. (Sumber)



"Anak saya nanya kenapa ibu sedih? Saya menjelaskan kepada anak saya kenapa sedih, dan saya jawab saat itu saya lagi ditanya sama wartawan bagaimana menghadapi anak ketika rewel," tutur Dewi di Mapolrestabes Bandung, Jumat (20/2).

"Saya improvisasi dengan jawaban itu. Saya menjelaskan bahwa saya seorang polisi, dan sering meninggalkan anak-anak saya yang masih kecil karena pekerjaan saya. Dan saya menjawab juga di situ kadang saya merasa sedih," ungkapnya.

Jawaban Brigadir Dewi dengan wajah murung itulah direspon netizen dengan berbagai versi. Sepekan terakhir puluhan meme Dewi hadir dengan bacaan lucu. Bagiamana reaksi Dewi menanggapi itu?

"Pasti kaget ya ketika wajah saya ada di media sosial," jawabnya. 

Ibu tiga anak itu tak mengira tayangan program di salah satu televisi swasta itu jadi ramai di media sosial sudah hampir sepekan ini.

Kali pertama dia diberi tahu keponakan, bahwa wajahnya berseliweran menjadi display picture Blackberry Messenger (BBM). "Keponakan saya memberi tahu ada wajah saya dengan bacaan 'di situ kadang saya merasa sedih," jelasnya.

Ini dia Pasukan Tempur yang Siap Bongkar Persembunyian Begal Motor

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Unggung Cahyono, mengatakan telah menyiapkan pasukan khusus untuk menyerbu tempat persembunyian para pelaku begal motor yang bermarkas di Lampung. (Sumber)



Pasukan tempur yang dibentuk langsung oleh Unggung dilakukan lantaran kelompok begal di kampung halamannya sangatlah kuat. Sebab, hampir seluruh warga di kampung itu berprofesi sebagai begal motor.

"Kami akan kerahkan pasukan tempur untuk membantu menggerebek mereka (begal). Kami tak mau ada anggota yang jadi korban keberingasan mereka," kata Unggung.

Unggung menjelaskan, di kampung halamannya, pelaku selalu dilindungi oleh warga setempat. Tak hanya itu, di sana, mereka juga membekali diri dengan senjata api.

Setiap kali digerebek, lanjut Unggung, para pelaku selalu melakukan perlawanan. Untuk memberantas ini, dia juga sudah berkoordinasi dengan Kapolda Lampung.

"Saya minta tolong ke Kapolda Lampung supaya tim pemburu begal dari Polda Metro Jaya dibantu Brimob saat menggerebek ke lokasi kampung tempat para begal bersembunyi," katanya.

Sebelumnya, Unggung menjelaskan, ada tiga kawasan di wilayah hukum Polda Metro Jaya yang menjadi santapan para pelaku begal motor, di antaranya, Tangerang, Depok dan Bekasi. Para pelaku juga tak segan-segan melukai korban jika melawan.

Inilah Kisah Keberanian TNI AL Mau Serang Kapal Perang Canggih Portugal

Soal keberanian pasukan TNI memang tak diragukan lagi. Banyak cerita heroik aksi berani di tengah keterbatasan. Cerita soal para awak kapal KRI Pattimura ini salah satunya. (Sumber)



Saat itu tahun 1975, Kondisi di sekitar perbatasan Indonesia dan Timor Portugis (kini Timor Leste), berlangsung tegang. Apalagi Portugal sudah menarik diri, dan membiarkan wilayah ini di ambang perang saudara.

Situasi semakin tidak terkendali, baku tembak antara massa pro-Indonesia dan pro-kemerdekaan bahkan pro-kolonialisasi terus terjadi. Jenazah dilaporkan bergeletakan hampir di setiap sisi jalan.

Kejadian itu membuat Indonesia waspada, bahkan mengirimkan kapal perangnya untuk menggelar patroli tempur dan mengawasi setiap pergerakan yang mencurigakan di sekitar Laut Timor. Medan tugas yang diberikan meliputi bagian Timur Portugal hingga Pulau Atauro.

Dalam patroli laut tersebut, kapal-kapal perang Indonesia sering kali berpapasan dengan armada tempur Portugal. Kedua belah pihak saling bertegur sapa dan menghindari provokasi yang dapat menimbulkan kerugian bagi Indonesia maupun Portugal.

Namun, akhirnya terjadi beberapa minggu sebelum invansi terhadap Timor Leste berlangsung. Seperti biasanya, KRI Pattimura dan beberapa kala lainnya sedang lego jangkar di Atapupu. Dari kejauhan, terlihat bayang-bayang kapal perang dengan kecepatan tinggi mendekati kapal-kapal Indonesia.

Melihat situasi tersebut, awak KRI Pattimura segera siaga. Bahkan, Komandan Satgas Amfibi Kosgasgab (Komando Tugas Gabungan) Kolonel Laut Gatot Suwardi lompat ke dalam kapal dan memerintahkan anak buahnya siap tempur dan mengarahkan senjatanya ke arah kapal yang kemudian diketahui F488 Afonso Cercueira.

KRI Pattimura segera menarik sauh dan memacu kecepatan maksimum ke arah kapal perang milik Portugal tersebut. Melihat KRI mencoba melakukan perlawanan, kapal tersebut berbalik arah dan menambah kecepatannya hingga 22 knots, sedangkan kecepatan maksimal KRI Pattimura hanya 14 knots.

Kisah itu tertuang dalam 'Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi: Pengabdian Alumni Akabri Pertama 1970' terbitan Kasta Hasta Pustaka tahun 2012. 

Saat itu KRI Pattimura sebenarnya tidak benar-benar siap dalam pertempuran laut. Ketika itu, dua meriam utama 3 inci tidak siap melakukan penembakan. Hanya dua meriam kembar 37 mm yang bisa menembak, dan itupun hanya untuk menghadapi serangan udara.

Meski menghadapi kekurangan tersebut, namun awak KRI Pattimura seakan tidak peduli. Mereka semangat berpikir akan terlibat dalam pertempuran laut yang sebenarnya.

"Kami semua di atas kapal rasanya mau perang laut beneran," kata awak KRI Pattimura, Lettu Laut Frits AC Mantiri.

Tak hanya itu, melihat perbedaan kekuatan yang dimiliki KRI Pattimura dengan fregat milik Portugal tersebut sempat membuat perwira kapal berseloroh, setelah ketegangan mereda.

"He, kalian tahu bila terjadi kontak senjata tadi? Nanti akan ada kompleks perumahan Angkatan laut yang jalan-jalannya bernama Jalan Fred Lonan, Jalan Radiman Satriyanto, Jalan Amran karena kita semua mati konyol," kata perwira berpangkat mayor itu pada para juniornya.

Ucapan itu tak lepas dari kondisi KRI Pattimura yang serba minim. Termasuk meriam utama macet.

Bandingkan dengan Afonso Cercueira fregat milik Portugal yang merupakan jenis terbaru sesuai standar NATO dan memiliki empat meriam utama kaliber 100 mm yang serba otomatis. Ada juga dua senjata tambahan berupa Bofors L70. Jika misalkan benar-benar terjadi pertempuran, jelas sangat tak imbang.

Namun kontak senjata tak terjadi. Para awak kapal portugis keburu takut melihat keberanian TNI AL.

[tyo]