Sabtu, 08 Desember 2012

KISAH DIBALIK DESA ZISIQIAO, CHINA

Selain memiliki keindahan alam, sebuah daerah dikatakan unik dikarenakan beberapa hal, ada yang unik dikarenakan letak geografisnya, ada juga yang dikatakan unik dikarenakan budaya atau kebiasaan penduduknya.

Tapi ada sebuah desa / daerah di China dengan kebiasaan unik penduduknya sehingga desa ini ini sering disebut "Desa Ular", mengapa demikian ? Simak artikel berikut untuk lebih jelasnya.

Desa Zisiqiao terletak di pusat daerah pertanian yang luas di propinsi Zhejiang, China timur, desa yang sepi itu menyembunyikan sebuah "rahasia maut". Orang luar yang masuk kesetiap rumah keluarga petani di sana akan tersentak kaget dibuat piaraan penduduk. Mereka akan melihat langsung ribuan dari sebagian makhluk paling ditakuti di dunia, yaitu ular dan ular ular disini yang yang banyak ular berbisa.

Cobra, viper dan python terdapat di mana-mana di Zisiqiao, yang memang dikenal sebagai desa ular. Di sana reptilia itu sengaja dipelihara penduduk untuk digunakan sebagai bahan makanan dan obat-obatan tradisional, yang menghasilkan jutaan dolar buat desa tadi yang tanpa sumber tersebut cuma akan mengandalkan pertanian saja.

"Sebagai desa ular nomor satu di China, kami tidak mungkin memelihara hanya satu jenis ular saja," ujar Yang Hongchang, 60, petani yang memperkenalkan pembiakan ular kepada desa tadi beberapa dekade lalu.

Pada tahun 1985, Yang mulai menjual ular hasil tangkapannya di sekitar daerah itu kepada para pembeli binatang. Dia segera mulai cemas bahwa ular-ular liar akan habis, karena itu pria tadi mulai meriset tentang cara membiakkan ular di rumah.

Dalam waktu tiga tahun kemudian, dia menjadi kaya -- dan banyak penduduk lain memutuskan untuk meniru suksesnya. Dewasa ini, lebih tiga juta ekor ular dibiakkan di desa itu setiap tahun oleh 160 keluarga tani. Ular-ular itu dikenal karena properti obat dalam obat-obatan tradisional Tionghoa dan biasa diminum seperti sup atau anggur untuk menambah kekebalan tubuh seseorang.

"Cara pembiakan orisinal kami telah disetujui dan diakui oleh pemerintah kabupaten dan propinsi. Mereka memandang kami sebagai korporasi yang bekerjasama dengan para keluarga petani," singkap Yang. "Jadi perusahaan itu meneliti ular-ular tersebut dan mereka menyerahkannya kepada para pembiak di desa. Mereka mengatakan model ini berjalan dengan baik."

Metode pembiakan orisinal itu dulu cukup dengan menempatkan jantan dan betina di satu tempat, tapi kini riset teliti dilakukan untuk mengetahui bagaimana ular-ular itu membiak, bagaimana memilih betina yang bagus, meneliti makanan mereka, dan bagaimana mengeramkan telur-telur agar tingkat kelangsungan hidupnya naik.

Meningkatnya permintaan akan produk-produk ular dari restoran dan balai-balai pengobatan seiring dengan naiknya tingkat kekayaan dan dorongan pemerintah mengembangbiakkan binatang itu untuk digunakan dalam obat-obatan tradisional, para penduduk Zisiqiao dewasa ini menikmati penghasilan tahunan mencapai ratusan ribu yuan. Yang Yiubang, 46, telah memelihara ular di kediamannya selama lebih 20 tahun dan mengatakan pendapatan tahunannya terus naik. "Permintaan akan obat-obatan tradisional Tionghoa cukup tinggi di China," ujar pria tadi. "Setelah kami selesai memproduksi ular kering, sebagian besar dikirim ke pabrik-pabrik obat. Ini juga termasuk hati dan empedu ular.

Yang Hongchang menambahkan berbagai produk ular dari desa itu kini diekspor secara global ke berbagai negara seperti AS, Jerman, Jepang dan Korea Selatan. Di daerah sekitarnya, produk-produk ular dari desa itu dijual di kota besar Hangzhou, Zhejiang, tempat Hangzhou Woai Company menawarkan bermacam barang termasuk bubuk ular. "Setiap bagian tubuh ular itu berharga," ujar manajer toko Gao Chengchang.

"China memiliki suatu budaya ular yang kuat, terdapat banyak orang -- seperti di Guangzhou --yang suka memakan ular." Dengan produk-produk ular spesial, bisnis beromset jutaan dolar di desa tadi membuat iri banyak komunitas desa lainnya. Namun Yang Hongchang mengatakan persaingan kini ketat dari pembiak lain yang memelihara ular pada skal lebih besar daripada desanya. Selain itu, memelihara ular bukan berarti tidak ada risikonya.

Para pemelihara ular mengaku mereka digigit, sebagian oleh ular-ulat berbisa, dan hanya bisa diselamatkan dengan suntikan obat anti bisa. Yang Wenfu, 55, jera dan tak mau lagi memelihara ular viper berbisa setelah kena gigit salah satu darinya pada awal karirnya.

Foto foto kegiatan penduduk desa Zisiqiao :















Tidak ada komentar:

Posting Komentar